Efek buruk jika menikah tanpa cinta

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 28 September 2013

Efek Buruk Jika Menikah Tanpa Cinta

Mungkin Anda pernah mendengar cerita orang tua yang mengatakan, "Kami dulu menikah tanpa cinta, tetapi akhirnya kami saling mencintai setelah menikah,". Sudah jadi rahasia umum bahwa puluhan tahun lalu, banyak pernikahan terjadi karena perjodohan, paksaan (karena wanita tidak boleh menolak) dan sebagainya. Sehingga pernikahan berlangsung tanpa rasa cinta.

Umm.. apakah konsep seperti ini masih berlaku di masa kini?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pemikiran menikah dengan cinta atau menikah dengan cinta belakangan. Hanya saja, pernikahan adalah momen yang sakral, saat kita memutuskan hidup selamanya dengan orang lain. Apakah kecocokan atau bahkan paksaan cukup untuk menjalani pernikahan yang seharusnya berlangsung seumur hidup?

Ada beberapa risiko pernikahan yang dilakukan tanpa cinta, khususnya di masa kini. Inilah beberapa di antaranya.

Lebih Banyak Godaan

Menikah karena terpaksa atau sekedar "Ya sudahlah, kami sudah saling cocok dan dikejar umur," membuat banyak pasangan mengalami goncangan, bahkan di awal masa pernikahan. Godaan pihak ketiga sangat besar. Bisa dari mantan pacar, atau dari orang baru yang dirasa lebih cocok dan dianggap sebagai jodoh karena tumbuhnya cinta. Banyak pernikahan berakhir karena hadirnya orang ketiga yang lebih bisa memberikan cinta dan kenyamanan. "Untuk apa setia dengan dia, aku tidak mencintainya," itulah alasan yang sering diucapkan.

Kehidupan Rumah Tangga Hambar dan Tidak Bahagia

Pada akhirnya, pernikahan hanya sekedar melayani suami. Suami sekedar bekerja dan memberi nafkah istri. Anda dan dia akhirnya merasakan ada yang hambar dalam kehidupan sehari-hari. Rutinitas itu dilakukan hanya sebagai melaksanakan kewajiban semata. Akibatnya, banyak pasangan mengalami kebosanan dan tidak bahagia. Akibatnya, kembali pada efek nomor satu, godaan pihak luar sangat mungkin merusak pernikahan tanpa cinta.

Sering Bertengkar

Tanpa cinta, seringkali tidak muncul kompromi antara suami istri. Saling bertahan dengan pendapat masing-masing, saling merasa benar, tidak mau mengalah, akhirnya pertengkaran menjadi makanan sehari-hari. Hidup tidak akan nyaman dengan adanya pertengkaran. Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan dan kenyamanan dalam bentuk cinta. Jika cinta itu tidak datang dari pasangan, lalu harus didapat dari mana?

Anak Merasakan Dampaknya

Jika pasangan sudah memiliki anak, maka pernikahan tanpa cinta yang tidak bahagia akan memberi dampak pada anak. Jangan remehkan kemampuan anak memahami apakah kedua orang tuanya saling mencintai atau tidak. Anak akan belajar mencintai dimulai dari rumah, mereka bisa memahami apakah kedua orang tuanya saling mencintai atau tidak hanya dari percakapan sehari-hari. Jika pernikahan diisi dengan banyak pertengkaran, anak bisa tumbuh tidak bahagia dan membuat anak bersikap dingin saat dewasa.

Menikah dengan atau tanpa cinta, mana yang akan Anda pilih?

Jumat, 27 September 2013

SEJARAH SEPAK BOLA DUNIA

Ngomong2 tentang sejarah sepak bola ternyata banyak juga orang yang belum mengetahui, bahkan yang mengaku penggila sepak bola sekalipun tidak tahu. Sudah tidak di pungkiri lagi kalau sepak bola adalah olah raga paling popular di jagat raya ini. Harmonisasi permainan di lapangan hijau, adu strategi, adu gengsi, sampai gol - gol tercipta membuat mata terpesona melihatnya.
Siapa yang menyangka kalau dalam historinya sepak bola dilarang, karena dapat menimbulkan perkelahian dan membahayakan.

Sedangkan sejarah lahirnya sepak bola sebenarnya berasal dari China. Ternyata sejak 3000 tahun yang lalu sepak bola sudah dilakukan di berbagai negara. Sekitar abad 2 - 3 pada masa pemerintahan dinasti han, telah di temukan dukti bahwa sepak bola pernah di mainkan oleh prajurit China. beberapa waktu yang lalu juga di temukan bukti yang kuat bahwa permainan sepak bola pernah dimainkan di Kyoto, Jepang.

Sedangkan sejarah sepak bola mulai masuk di indonesia adalah pada waktu negara R.v Persie menjajah negri ini 3,5 abad lamanya. Dan pada waktu itu sepak bola menjadi olah raga menjadi olah raga para kelompok bergengsi yang tidak sembarang orang bisa bermain.